Mendung

image.jpeg

“Ah, awan gelap sudah mulai terlihat. Aku harus pulang sekarang.” Kataku.

Aku sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam menemani Joe menyelesaikan tugasnya. Tapi bukannya fokus pada laptopnya, matanya justru terus tertuju pada smartphonenya. Untuk apa lagi kalau bukan untuk terus mengabari pacarnya, Sasa.

“Yah, Le. Temani aku sampai semua tugas ini selesai. Aku pasti akan mengantarmu pulang kok.” Jawabnya.

Aku tak habis pikir dengannya. Tugas Applied Literary Criticism tidak sesulit itu untuk dikerjakan. Mungkin karena kenyataan itu Joe menganggap remeh dan terus memalingkan mata dan pikirannya pada Sasa.

“Aku bosan menemanimu, aku pikir kau mengajakku kesini karena kau ingin segera mengumpulkannya besok pagi. Kau tahu Bu Yeni tidak suka kalau mahasiswanya mengerjakan tugas dengan asal-asalan. Sebaiknya kau selesaikan saja tugasmu sendiri, aku bisa pulang naik taksi.” Tanggapku ketus.

“Ale… Aku yang akan mengantarmu pulang. Sebentar lagi, aku hampir menyelesaikannya. Kau tahu aku sudah lama tidak bertemu Sasa, dan dia sedang butuh perhatian lebih. Mengertilah. Kau kan sahabat terbaikku.”

Joe selalu tahu kalimat yang tepat untuk meluluhkanku, walaupun itu tidak menghilangkan kekesalanku. Aku hanya mengangguk dengan menghela nafas. Dalam batin aku bersumpah akan memukulnya jika nilainya berakhir buruk. Aku tidak mau waktu yang terbuang untuk menemani dan mengajari Joe berakhir sia-sia.

“30 menit. Itu waktu yang kau punya. Dan pastikan kau menyetaknya dengan rapi, dan tulis namamu di sebelah kanan atas, dan juga nomor indukmu. Kau sering lupa.” Lanjutku.

“Gila. Kau tahu kan kau yang paling mengerti aku? Aku tidak akan lupa kalau kau sudah mengingatkanku. Siapa yang bisa lupa kalau kau sudah memasang muka menyeramkanmu itu? Hahaha”

“Tidak lucu. Cepat selesaikan, kau membuang banyak waktu.”

“Le… Berhentilah bermuka masam, itu membuatmu jelek. Sini sini kau butuh pelukan?” Jawab Joe sambil merentangkan tangannya.

“Bodoh! Berhentilah bercanda, aku sedang serius!”

Si bodoh Joe terus merentangkan tangannya menungguku masuk dalam pelukannya. Dia selalu berperilaku bodoh, tapi itulah dia. Kekonyolannya mengikatku erat. Perlahan aku masuk dalam dekapannya.

“Sudah puas belum? Kau sangat membuatku kesal.”

“Belum. Kita akan terus seperti ini sampai kau berhenti kesal padaku.”

Aku terdiam. Dia selalu bisa membacaku. Dia tahu alasan sebenarnya mengapa aku begitu kesal.

“Maaf.” Kataku.

“Iya.”

Langit semakin gelap, titik-titik hujan mulai jatuh. Perlahan hatiku diselimuti kehangatan, walau angin yang dingin mulai berhembus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s