A Little Bit of Heart, A Little Bit of Mind

Di malam yang dingin dan sunyi ini, aku berbaring kosong di atas tempat tidurku. Sudah lama rasanya sejak kita saling bicara. Aku berpikir keras mengapa kita saling beranjak dan berjalan pergi.

Lalu aku terhenti, “ini yang terbaik.” Batinku.

Kita berada dalam tempat yang buruk. Di suatu titik dimana yang ada hanyalah kita yang saling menyakiti satu sama lain. Mengapa begini? Apa inikah yang seharusnya kita jalani?

Bukankah kita saling menyayangi? Pertanyaan itu terus terngiang di dalam kepalaku. Semakin sering kudengar itu semakin aku menyalahkan diri. Berkali-kali aku menghadapi hal seperti ini, hingga pusing aku dibuatnya.

“Aku sudah gila.” Bisikku.

Ini rasa sepi dan kehilangan yang sangat dalam. Ternyata benar, aku sangat menyayanginya. Aku menyayanginya.

Aku menunggu air mata mengalir dari mataku, dan jatuh menetes dari kedua pipiku. Namun tak ada sedikitpun air mata keluar, dua bola mata ini bahkan tak berkaca-kaca dibalik sesak dan ricuhnya hati.

Orang-orang pikir mereka tahu. Mereka hanya mengolok-olok kesedihanku, dan tertawa lepas di atasnya. Yang mereka lihat jauh sekali dari kenyataannya, dari apa yang harus aku lalui. Mereka tak paham. Aku tak hanya kehilangan teman. Aku kehilangan rumahku, pundak hangat tempatku biasa bersandar, kawanku bicara tentang dunia yang kejam, sekaligus membahagiakan.

Bagi siapapun yang membaca ini, mungkin kalian akan berpikir “kau menyedihkan.” Aku tahu, tapi hal ini sudah lama sekali kusimpan, dan ini sudah semakin tak sehat buatku. Menuliskan perasaanku adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

Aku biasa melihatnya setiap hari, berbincang dengannya, menatap matanya. Sekarang pun aku tak bisa sedikitpun merasa nyaman berada di sekitarnya. Melihatnya itu menyesakkan, lebih lagi menahan untuk tak menyapa dan memalingkan muka. Konyol? Mungkin saja.

large

Dia meninggalkan banyak jejak dalam diriku, sedikit lebih banyak dari siapapun yang pernah menghabiskan banyak waktu bersamaku. Bodohnya, aku sudah tahu dari awal bagaimana akhir dari semua ini. Seiringnya waktu, semakin berat untuk ku melepasnya, namun siapa aku untuk menahannya. Biar waktu yang menyembuhkanku, dan berharap kami saling melupakan.