The Gift of a Friend

Saya punya sedikit cerita, walaupun awalnya saya tidak ada niat untuk menulis apapun hari ini. Namun setelah apa yang baru saya saksikan dan saya alami, saya terinspirasi dan tidak bisa menahan untuk tidak membaginya.

Mari kita sebut saja namanya Rama. Dia salah satu teman saya sejak awal kuliah. Ini kisah tentang dia. Berbeda dengan teman-teman saya yang lain, dia cukup pemalu. Namun saya bisa menemukan kecocokan dengannya. Saya bisa berbagi segala macam cerita, dari hal sepele hingga masalah keluarga. Kebetulan, kami sama-sama memiliki teman dekat, dan kami sama-sama sedang mengalami suatu masalah. Namun kisah yang satu ini cukup mengenai Rama. Bukan saya.

Sudah sejak lama, Rama dekat dengan Dian (bukan nama asli tentunya). Saking dekatnya, orang-orang menganggap mereka seperti satu paket. Jarang sekali mereka tidak pergi bersama. Hingga suatu saat mereka menemukan sisi dimana mereka mengalami perbedaan. Kedekatan mereka menimbulkan rasa yang tidak pernah ada sebelumnya. Namun sayangnya, hal itu hanya dirasakan oleh Rama.

Awalnya Rama berpikir untuk menyimpannya saja. Namun apa daya jika lama-lama rasa itu susah sekali untuk ditahannya. Dia pikir mungkin sudah saatnya hal itu dia ungkapkan.

Pernahkah kalian merasa ingin mengungkapkan sesuatu yang ada di pikiran kalian, namun susah sekali untuk mengeluarkannya? Bahkan mengucapkan hal yang cukup sederhana saja tidaklah mudah. Itulah yang dirasakan oleh Rama.

Saat bertemu dengan Dian, Rama tidak bisa menghentikan kepanikan dan rasa ketidaktenangannya. Dia cukup mengungkapkan  beberapa kata namun tidak dikira hal itu akan sungguh menyiksanya. Setelah beberapa waktu akhirnya diucapkanlah, kalimat tabu yang seringnya dihindari oleh kebanyakan sahabat diluar sana. Rasa sayang yang lebih dari teman. Rasa dimana cinta mulai tumbuh dan sulit untuk mendalihinya.

Hasilnya? Dian tidak merasakan hal yang sama. Rasa yang ada di dalam hati Rama pun tidak bersambut. Meskipun keduanya saling menyayangi, tidak ada kemungkinan apapun dari benak Rama yang akan terjadi.

Waktu demi waktu, jarak mulai muncul di antara keduanya. Hingga suatu hari, mereka tidak saling mengucapkan sepatah kata. Semuanya berhenti begitu saja.

tumblr_ntc9q8opur1ub48m2o2_500

Kesepian, kehilangan, semua hal yang tidak pernah Rama bayangkan, kini dia rasakan. Tidak sedikit waktu dimana dia menyalahkan diri, dia juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Jika saja mengesampingkan rasa itu mudah, dia akan mengorbankannya. Jika saja, dia bisa kembali bersama Dian.

Hari demi hari, minggu demi minggu. Tidak ada malam dimana dia tidak memikirkan Dian. Dia hanya berharap, tidak hanya dia yang merasa seperti ini. Karena jika tidak, yang ada hanyalah dia akan semakin bersedih. Tidakkah itu sakit? Tidak bersama lagi dengan seseorang yang setiap harinya kita saling berbagi, saling berbicara, saling tertawa? Tidakkah hampa? Bisa melihatnya, mendengarnya, namun tidak bisa menyapanya? Rasa kehilangan itu tidak bisa teratasi tanpa melewati jangka waktu yang panjang.

Ketika Rama mulai menguatkan diri untuk tidak memikirkan Dian lagi, Dian justru mulai mencari perhatiannya. Rama merasa sulit untuk tidak menghiraukannya. Bagaimana bisa Rama mengalihkan pandangannya jika Dian terus berada di depannya, di sampingnya?

Rama tidak merasa senang. Dia sedih, lebih lagi dia merasa kesal. Apa alasan Dian melakukan semua itu? Rama sudah berusaha keras untuk menghindarinya, namun Dian terus datang dan datang. Walaupun sebenarnya Rama ingin kembali seperti dulu lagi, namun dia terlalu menyayangi perasaannya, hatinya. Karena bertepuk sebelah tangan dan berpura-pura itu terlalu menyulitkan. Menjauh dan diam itu hanyalah pilihan yang terbaik untuknya. Di suatu titik, kesabaran pun ada batasnya.

Rama memutuskan untuk membuka mulutnya dan bertanya. Untuk apa Dian bersikeras mengajaknya bicara, mendekatinya, padahal dia tahu itu mengganggu Rama? Dia sudah cukup menahan rasa kesal dan emosi. Hingga akhirnya Dian melontarkan kata-kata yang tidak pernah Rama duga.

“Aku ngeliat diri aku di dalam kamu. Kamu itu seseorang yang nggak bisa aku lihat di dalam diri orang lain. Aku nggak tahu apa kamu paham sama semua yang bakal aku omongin. Kamu itu orang yang selalu ngertiin aku. Disaat aku susah, kamu mau susah-susah sama aku, kamu terima-terima aja aku ajak makan yang murah, kamu mau aku ajak ke tempat yang biasa aja, yang bahkan belum tentu kamu suka. Kamu bisa aku ajak seneng-seneng, kamu yang ngajarin aku untuk nggak boros, kamu mau nemenin aku kemana pun. Kamu suka hal-hal yang aku suka. Kamu selalu bantuin aku ngehadepin masalahku, tugasku, ketakutanku. Kamu apa adanya di depanku, aku suka itu dari kamu, walaupun kamu nggak bisa lihat semua itu. Rama, aku mau terus bersahabat sama kamu. Keberadaan kamu penting di hari-hari aku.”

Semua kalimat itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Rama. Rama tidak menyadari, betapa penting peran yang selama ini dia jalani bersama Dian. Rama sadar, selama ini ruang dan waktu yang dia berikan untuk Dian, sebegitu pentingnya untuk Dian. Setiap momen yang mereka lewati, ternyata berpengaruh di diri Dian. Disitulah, Rama mengubah cara pandangnya.

Cinta mungkin hilang seiring waktu berjalan, namun rasa nyaman akan selalu ada. Tanpa mereka yang membuatmu nyaman, yang ada hanyalah hati yang hampa.

It only takes special people in our lives, to take such role to make us feel comfortable, safe, accepted and happy in every step of the way, even though we have to go through the bad parts.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s