God, Please Take Me Away

Purchase this image at http://www.stocksy.com/519199

Hari ini sama seperti hari-hari yang biasa, dan tulisan ini juga tak jauh dari tulisan-tulisan yang biasa.

Mengapa tulisan saya tak pernah jauh dari kesedihan dan rasa sepi? Entah.

Karena keadaan? Mungkin. Masalah hati? Tak salah.

Saya ingin menulis sedikit mengenai hal yang beberapa bulan ini pergi dan datang pada saya. Bukan mengenai cinta, mungkin lebih mengenai diri saya dan ujian yang sedang saya lewati.

Tulisan saya kali ini lebih mengenai keadaan batin yang sudah saya alami sejak bertahun-tahun lamanya. Hal ini terus terjadi, kadang bagai titik-titik hujan yang sendu, kadang juga bagai ombak keras yang menerjang saya hingga tenggelam.

Pria ini, figur yang luar biasa berkali-kalinya menancapkan tombak dan panah tajam yang panas dalam dada saya. Saya tidak dekat dengan pria ini, tapi segala rasa sakit yang saya rasakan dalam hidup ini sedikit banyaknya dikarenakan olehnya. Sudah seumur hidup ini saya mengenalnya, namun dia tak mengenal saya, sama sekali. Dia tak pernah sadar selama ini luka demi luka yang dia sebabkan dari waktu ke waktu sungguh membekas di hati saya. Dan yang namanya luka, apa yakin bisa dilupa?

Sosok pria yang egois, dingin, dan nyentrik. Yang bertahun-tahun tak menjalankan kewajibannya, selalu menuntut haknya, menolak adanya perbedaan, menjunjung tinggi harga dirinya, tak memiliki rasa kasihan, dan tak pernah mau mengerti. Bukankah seorang individu yang seperti ini hanya akan berakhir sendiri? Menurut saya setidaknya itu akhir yang paling pantas untuknya. Jahat? Saya akui. Namun saya sungguh heran betapa jahatnya pria ini. Betapa bisanya,dia berbuat jahat tanpa adanya rasa empati. Saya sadar, ternyata sabar menghadapi orang yang jahat itu tak selamanya membuat kita menjadi orang yang baik. Kita semua tahu, sabar ada batasnya. Terkadang menerima keadaan pun membuat kita muak bukan?

Saya selalu ingin uring-uringan, namun saya tahu posisi saya dalam situasi ini. Saya hanya ingin pergi, jauh dan tak pernah merasa harus kembali.

Beberapa waktu ini saya tak pernah berpikir untuk pulang. Saya menolak dan takut, lebih tepatnya. Konflik hidup yang fatal sedang menanti saya, dan saya sungguh tak memiliki keberanian untuk menghadapinya. Sebelum bulan Oktober ini berakhir, mau tidak mau, siap tidak siap, saya diharuskan pulang. Ingin saya menangis mencari pertolongan, namun saya terlalu lelah dan saya terlalu sadar bahwa tak ada siapapun yang bisa membantu saya kecuali diri saya sendiri dan Tuhan. Saya ingin meluapkan keluh kesah, namun tak semua orang dapat mendengar dan mengerti apa yang saya utarakan.

Satu hal yang tak henti-hentinya berputar di dalam pikiran saya, “Kenapa harus sekarang? Kenapa hal ini harus datang di tengah-tengah keadaan dimana saya yang seharusnya fokus untuk menyelesaikan studi? Kenapa hal ini merenggut segala motivasi yang ada di dalam diri saya? Kenapa saya harus kehilangan orang-orang yang berarti untuk saya? Kenapa Tuhan menguji saya sekarang? Kenapa saya harus hidup seperti ini?”. Kalimat-kalimat tanya kenapa itu selalu muncul tanpa ada habisnya.

Saya mungkin tidak bisa menjelaskan keadaan ini secara blak-blakan, karena hal ini cukup pribadi jika dicetuskan. Setidaknya dengan menulis ini saya bisa lebih melegakan diri, walau hanya setengah-setengah.

Saya rindu merasakan kebahagiaan. Saya tak tahu mengapa betapa kerasnya saya tertawa, betapa menyenangkannya orang-orang di sekitar saya, masih tak cukup untuk membuat saya bahagia? Apakah selama ini yang saya jalani hanyalah kepura-puraan? Sandiwara? Tidak sama sekali. Saya senang akan segala hal yang membuat saya tersenyum, namun tak pernah sekalipun terbersit dalam benak saya bahwa “aku bahagia”. Apa saya salah merasa seperti itu? Atau memang benar frasa “bahagia itu harus dicari dan bahagia tidak datang sendiri”? Saya tak tahu.

Inti dari semuanya adalah mungkin tahun 2016 yang sebentar lagi akan berakhir ini akan menjadi salah satu tahun terberat yang saya jalani. Padahal saya sungguh merasa optimis, positif mengenai tahun ini. Siapa yang mengira bahwa segala sesuatunya akan disedot habis dalam kurun waktu yang sama? Siapa yang mengira sad ending tak dapat bertubi-tubi datangnya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s