Rumah Sementaraku

Pagi itu kulukis senyum pada bibirku. Mencoba untuk setidaknya mengubah suasana hatiku yang sedikit pilu. Hari itu aku belum mengenalmu, teringat jelas dibenakku kala itu di semester satu. Kau dengan polo hitammu, dan celana chino warna cokelatmu. Tak lupa dengan seuntai kalung rosario putih menghiasi lehermu, serta converse abu-abu bulukmu.

Hari itu bukan wajahmu yang menarik perhatianku, melainkan punggungmu. Ya, saat itu aku duduk manis terdiam menatap layar smartphoneku. Tak memerdulikan sekitarku sejak mulainya perkenalan kelompok para mahasiswa baru. Sesekali aku menoleh memastikan kapan tibanya giliranku. Hingga pada akhirnya sampai pada giliranmu, itulah momen pertama aku mengarahkan pandanganku.

Kau biasa saja, menurutku. Namun entah kenapa kesan pertama yang kurasakan menimbulkan berbagai tanya dalam otakku. Sepertinya kau akan jauh lebih dari biasa. Siapa yang mengira perkenalan sederhana itu akan berubah menjadi suatu persahabatan hangat di antara kita?

Perlahan namun tak pasti aku mulai mengenalmu. Awal yang kita lalui dengan datarnya berjalan hingga kau membawaku pergi memasuki cerita yang panjang dan penuh dengan kelak kelok ini. Kesan pertamaku berubah pesat sebanyak 180 derajat. Setelah mengenalmu, aku sadar bahwa aku yang selama ini bukanlah aku. Kau melengkapi potongan-potongan puzzle yang selama ini aku cari dalam hidupku.

Sesuatu dalam dirimu perlahan menggapai segala celah yang ada dalam diriku. Dan kala itu aku ragu, aku telah bersama dengan yang lain hingga aku menolak untuk mengaku. Bagaimana aku bisa dipertemukan dengan orang sepertimu? Kau tak pernah tak mengerti aku, dan aku tak pernah mengerti kelihaianmu yang satu itu. Bagi seseorang yang dapat menemukan dirinya di dalam orang lain, itu adalah perasaan yang luar biasa. Terutama bagi mereka yang saling bisa membaca diri masing-masing. Kita.

Apalagi yang lebih luar biasa, kau tahu? Saat orang lain menyadarinya. Saat mereka hanya cukup melihat sekilas untuk menyimpulkannya. Kau dan aku itu satu, dan mereka tahu. Kau selalu ada, disaat aku punya maupun tak punya siapa-siapa. Kau rela, berdiri disampingku memayungiku di tengah hujan tanpa menghiraukan basah bajumu. Kau mau, meminjamkan bahumu berjam-jam untuk aku tangisi di tengah-tengah keterpurukanku. Malam demi malam, kau pinjamkan telingamu untuk mendengar segala keluh kesahku. Kau selalu menemukan titik terang di tengah mendungnya hari-hariku. Kau selalu tahu dimana aku biasa bersembunyi, disaat yang lain tak dapat menemukanku.

Tuhan begitu hebat, Ia memanahkan sasarannya dengan tepat. Bagaimana segalanya dapat berputar dengan begitu sempurna? Ia seperti mengirimkanmu sebagai segala pembuktian akan segala ketidakyakinanku. Aku yang dulu tak akan pernah mengira bagaimana satu orang yang tepat dapat mengubah segala pola pikirku.

Rasa nyamanku tak dapat kupungkiri, dan hingga kini pun tak lagi aku merasa ragu. Untukmu, tulisan singkat ini. Rumah sementaraku.

giphy

Advertisements

One thought on “Rumah Sementaraku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s