It Ain’t Love

The first time you laid your eyes on him, he might looked ordinary. You thought he would not be more than a stranger.

The next time he got your number and talked to him through your phone, he might seemed a little more.

The day after when you let him met you after class, he might looked kind of fun.

A moment later you thought that it is okay for him to ask you to get lunch or dinner, cause he might be someone who cares about your tummy situation.

Several days later you said yes to date him, cause he might be someone who is willing to get to know you better.

Not long after you had your first fight, it was stupid and selfish, you think he might let you win the argument but he wasn’t.

Several weeks passed by, you let him kissed and touched you, cause you thought he might started to fall for you and you started to fall for him too.

A month later he asked for all the passwords for all your social media, he thought he might need to know whom you talk to. You asked for the same thing but he didn’t let you.

Frequently he started to ask you to come by his place, said he needed someone to help him kept his room clean. You couldn’t say no cause you might be a good helper.

That night when the city started to get cold, he asked you to join him in the blanket, said you might need to be warmed up. You obeyed.

Less than an hour later he started to kissed you, he couldn’t stop putting his hands all over you and you did nothing but letting him do. There are no thoughts about how it might not be the right time to give him all of you.

A year later he started to make you cry, like a lot. Argument after argument, not even once he said sorry. Tears after tears doesn’t stop him, even when he knew it caused you pain. He accused you for no reasons, he even laid his hand on you whenever you said things that he doesn’t like. He forced you for sex and he won’t stop even for a second even though you don’t feel comfortable at all. You thought it was okay, cause you might found a way to make him change. You thought it was okay, as long as you made him happy.

image.jpeg

You might think he’s in love with you but honey, he isn’t. He might tell you he loves you but there’s no way love physically hurts you. No love let suspicious took control of one self toward another, love is all about building trust. He might slides his fingers in you and you might think it is all good but it is so wrong to forced you.

Lust is far different with love. And obsession is far different with caring for someone. We thought that if we fulfill their physical needs would prevent them to leave, keep them on their knees and love us, we’re wrong. That is not love.

Love is when you have faith in one another and get to know each other’s character. Love is when being together was as enough as breathing air, it keeps us alive. Love is when you let yourself drowning in each other without any force and love is when you know what’s good and what’s bad. And if it really is love, it would not be as temporary as impermanent tattoo.

Love takes time. It last longer. You don’t fall in a heartbeat, and so does out of love.

Love is gentle and it caresses you. No love would purposely hurt and force you to do something you don’t want to.

We lost our sane in love sometimes, that we mistaken obsession with care, and lust with love.

Don’t ever put yourself in that situation, don’t ever let yourself drown in any of that. Cause if you do, I’m sorry to say that it ain’t love.

Keangkuhan Malam

Malam ini seperti malam-malam yang biasa. Aku diam, menatap awang-awang dinding kamar tidurku. Sesekali aku menatap terangnya layar handphone yang kosong.

Salah jika aku bilang aku tak punya teman bicara.  Namun bagi mereka yang mengenalku, mereka akan tahu betapa susahnya aku untuk lelap di malam hari, atau butuhnya aku akan seseorang untuk mendengar keluh kesahku ditengah larutnya malam. Malam, malam, malam. Andai aku dapat berkawan dengannya.

Kadang aku pikir malam itu egois, disamping sepi dan ketakutan yang ia sebabkan. Mengapa? Malam begitu lihai dalam menyita waktu tidurku hanya untuk ratusan kali mencari-cari yang tak perlu dicari. Malam lihai membuatku terjaga sampai subuh tiba, bahkan hingga fajar menyapa. Malam lihai dalam mengundang mereka yang tak pernah hadir dalam pikiranku saat aku menjalani hari. Andai aku dapat menaklukan malam; karena bagi mereka yang bisa, aku iri.

Aku sungguh lelah jika kalian bertanya, hingga aku tak tahu harus menjawab apa. Kadang aku berharap agar malam tak usah datang. Mengapa? Karena aku ingin tetap baik-baik saja. Aku ingin terus didampingi matahari dan senja, karena merekalah distraksi terbaik yang aku punya dibalik segala gundah yang ada.

 

tumblr_ng67k0ycpw1sml1p4o1_500

 

Rumah Sementaraku

Pagi itu kulukis senyum pada bibirku. Mencoba untuk setidaknya mengubah suasana hatiku yang sedikit pilu. Hari itu aku belum mengenalmu, teringat jelas dibenakku kala itu di semester satu. Kau dengan polo hitammu, dan celana chino warna cokelatmu. Tak lupa dengan seuntai kalung rosario putih menghiasi lehermu, serta converse abu-abu bulukmu.

Hari itu bukan wajahmu yang menarik perhatianku, melainkan punggungmu. Ya, saat itu aku duduk manis terdiam menatap layar smartphoneku. Tak memerdulikan sekitarku sejak mulainya perkenalan kelompok para mahasiswa baru. Sesekali aku menoleh memastikan kapan tibanya giliranku. Hingga pada akhirnya sampai pada giliranmu, itulah momen pertama aku mengarahkan pandanganku.

Kau biasa saja, menurutku. Namun entah kenapa kesan pertama yang kurasakan menimbulkan berbagai tanya dalam otakku. Sepertinya kau akan jauh lebih dari biasa. Siapa yang mengira perkenalan sederhana itu akan berubah menjadi suatu persahabatan hangat di antara kita?

Perlahan namun tak pasti aku mulai mengenalmu. Awal yang kita lalui dengan datarnya berjalan hingga kau membawaku pergi memasuki cerita yang panjang dan penuh dengan kelak kelok ini. Kesan pertamaku berubah pesat sebanyak 180 derajat. Setelah mengenalmu, aku sadar bahwa aku yang selama ini bukanlah aku. Kau melengkapi potongan-potongan puzzle yang selama ini aku cari dalam hidupku.

Sesuatu dalam dirimu perlahan menggapai segala celah yang ada dalam diriku. Dan kala itu aku ragu, aku telah bersama dengan yang lain hingga aku menolak untuk mengaku. Bagaimana aku bisa dipertemukan dengan orang sepertimu? Kau tak pernah tak mengerti aku, dan aku tak pernah mengerti kelihaianmu yang satu itu. Bagi seseorang yang dapat menemukan dirinya di dalam orang lain, itu adalah perasaan yang luar biasa. Terutama bagi mereka yang saling bisa membaca diri masing-masing. Kita.

Apalagi yang lebih luar biasa, kau tahu? Saat orang lain menyadarinya. Saat mereka hanya cukup melihat sekilas untuk menyimpulkannya. Kau dan aku itu satu, dan mereka tahu. Kau selalu ada, disaat aku punya maupun tak punya siapa-siapa. Kau rela, berdiri disampingku memayungiku di tengah hujan tanpa menghiraukan basah bajumu. Kau mau, meminjamkan bahumu berjam-jam untuk aku tangisi di tengah-tengah keterpurukanku. Malam demi malam, kau pinjamkan telingamu untuk mendengar segala keluh kesahku. Kau selalu menemukan titik terang di tengah mendungnya hari-hariku. Kau selalu tahu dimana aku biasa bersembunyi, disaat yang lain tak dapat menemukanku.

Tuhan begitu hebat, Ia memanahkan sasarannya dengan tepat. Bagaimana segalanya dapat berputar dengan begitu sempurna? Ia seperti mengirimkanmu sebagai segala pembuktian akan segala ketidakyakinanku. Aku yang dulu tak akan pernah mengira bagaimana satu orang yang tepat dapat mengubah segala pola pikirku.

Rasa nyamanku tak dapat kupungkiri, dan hingga kini pun tak lagi aku merasa ragu. Untukmu, tulisan singkat ini. Rumah sementaraku.

giphy

God, Please Take Me Away

Purchase this image at http://www.stocksy.com/519199

Hari ini sama seperti hari-hari yang biasa, dan tulisan ini juga tak jauh dari tulisan-tulisan yang biasa.

Mengapa tulisan saya tak pernah jauh dari kesedihan dan rasa sepi? Entah.

Karena keadaan? Mungkin. Masalah hati? Tak salah.

Saya ingin menulis sedikit mengenai hal yang beberapa bulan ini pergi dan datang pada saya. Bukan mengenai cinta, mungkin lebih mengenai diri saya dan ujian yang sedang saya lewati.

Tulisan saya kali ini lebih mengenai keadaan batin yang sudah saya alami sejak bertahun-tahun lamanya. Hal ini terus terjadi, kadang bagai titik-titik hujan yang sendu, kadang juga bagai ombak keras yang menerjang saya hingga tenggelam.

Pria ini, figur yang luar biasa berkali-kalinya menancapkan tombak dan panah tajam yang panas dalam dada saya. Saya tidak dekat dengan pria ini, tapi segala rasa sakit yang saya rasakan dalam hidup ini sedikit banyaknya dikarenakan olehnya. Sudah seumur hidup ini saya mengenalnya, namun dia tak mengenal saya, sama sekali. Dia tak pernah sadar selama ini luka demi luka yang dia sebabkan dari waktu ke waktu sungguh membekas di hati saya. Dan yang namanya luka, apa yakin bisa dilupa?

Sosok pria yang egois, dingin, dan nyentrik. Yang bertahun-tahun tak menjalankan kewajibannya, selalu menuntut haknya, menolak adanya perbedaan, menjunjung tinggi harga dirinya, tak memiliki rasa kasihan, dan tak pernah mau mengerti. Bukankah seorang individu yang seperti ini hanya akan berakhir sendiri? Menurut saya setidaknya itu akhir yang paling pantas untuknya. Jahat? Saya akui. Namun saya sungguh heran betapa jahatnya pria ini. Betapa bisanya,dia berbuat jahat tanpa adanya rasa empati. Saya sadar, ternyata sabar menghadapi orang yang jahat itu tak selamanya membuat kita menjadi orang yang baik. Kita semua tahu, sabar ada batasnya. Terkadang menerima keadaan pun membuat kita muak bukan?

Saya selalu ingin uring-uringan, namun saya tahu posisi saya dalam situasi ini. Saya hanya ingin pergi, jauh dan tak pernah merasa harus kembali.

Beberapa waktu ini saya tak pernah berpikir untuk pulang. Saya menolak dan takut, lebih tepatnya. Konflik hidup yang fatal sedang menanti saya, dan saya sungguh tak memiliki keberanian untuk menghadapinya. Sebelum bulan Oktober ini berakhir, mau tidak mau, siap tidak siap, saya diharuskan pulang. Ingin saya menangis mencari pertolongan, namun saya terlalu lelah dan saya terlalu sadar bahwa tak ada siapapun yang bisa membantu saya kecuali diri saya sendiri dan Tuhan. Saya ingin meluapkan keluh kesah, namun tak semua orang dapat mendengar dan mengerti apa yang saya utarakan.

Satu hal yang tak henti-hentinya berputar di dalam pikiran saya, “Kenapa harus sekarang? Kenapa hal ini harus datang di tengah-tengah keadaan dimana saya yang seharusnya fokus untuk menyelesaikan studi? Kenapa hal ini merenggut segala motivasi yang ada di dalam diri saya? Kenapa saya harus kehilangan orang-orang yang berarti untuk saya? Kenapa Tuhan menguji saya sekarang? Kenapa saya harus hidup seperti ini?”. Kalimat-kalimat tanya kenapa itu selalu muncul tanpa ada habisnya.

Saya mungkin tidak bisa menjelaskan keadaan ini secara blak-blakan, karena hal ini cukup pribadi jika dicetuskan. Setidaknya dengan menulis ini saya bisa lebih melegakan diri, walau hanya setengah-setengah.

Saya rindu merasakan kebahagiaan. Saya tak tahu mengapa betapa kerasnya saya tertawa, betapa menyenangkannya orang-orang di sekitar saya, masih tak cukup untuk membuat saya bahagia? Apakah selama ini yang saya jalani hanyalah kepura-puraan? Sandiwara? Tidak sama sekali. Saya senang akan segala hal yang membuat saya tersenyum, namun tak pernah sekalipun terbersit dalam benak saya bahwa “aku bahagia”. Apa saya salah merasa seperti itu? Atau memang benar frasa “bahagia itu harus dicari dan bahagia tidak datang sendiri”? Saya tak tahu.

Inti dari semuanya adalah mungkin tahun 2016 yang sebentar lagi akan berakhir ini akan menjadi salah satu tahun terberat yang saya jalani. Padahal saya sungguh merasa optimis, positif mengenai tahun ini. Siapa yang mengira bahwa segala sesuatunya akan disedot habis dalam kurun waktu yang sama? Siapa yang mengira sad ending tak dapat bertubi-tubi datangnya?

The Gift of a Friend

Saya punya sedikit cerita, walaupun awalnya saya tidak ada niat untuk menulis apapun hari ini. Namun setelah apa yang baru saya saksikan dan saya alami, saya terinspirasi dan tidak bisa menahan untuk tidak membaginya.

Mari kita sebut saja namanya Rama. Dia salah satu teman saya sejak awal kuliah. Ini kisah tentang dia. Berbeda dengan teman-teman saya yang lain, dia cukup pemalu. Namun saya bisa menemukan kecocokan dengannya. Saya bisa berbagi segala macam cerita, dari hal sepele hingga masalah keluarga. Kebetulan, kami sama-sama memiliki teman dekat, dan kami sama-sama sedang mengalami suatu masalah. Namun kisah yang satu ini cukup mengenai Rama. Bukan saya.

Sudah sejak lama, Rama dekat dengan Dian (bukan nama asli tentunya). Saking dekatnya, orang-orang menganggap mereka seperti satu paket. Jarang sekali mereka tidak pergi bersama. Hingga suatu saat mereka menemukan sisi dimana mereka mengalami perbedaan. Kedekatan mereka menimbulkan rasa yang tidak pernah ada sebelumnya. Namun sayangnya, hal itu hanya dirasakan oleh Rama.

Awalnya Rama berpikir untuk menyimpannya saja. Namun apa daya jika lama-lama rasa itu susah sekali untuk ditahannya. Dia pikir mungkin sudah saatnya hal itu dia ungkapkan.

Pernahkah kalian merasa ingin mengungkapkan sesuatu yang ada di pikiran kalian, namun susah sekali untuk mengeluarkannya? Bahkan mengucapkan hal yang cukup sederhana saja tidaklah mudah. Itulah yang dirasakan oleh Rama.

Saat bertemu dengan Dian, Rama tidak bisa menghentikan kepanikan dan rasa ketidaktenangannya. Dia cukup mengungkapkan  beberapa kata namun tidak dikira hal itu akan sungguh menyiksanya. Setelah beberapa waktu akhirnya diucapkanlah, kalimat tabu yang seringnya dihindari oleh kebanyakan sahabat diluar sana. Rasa sayang yang lebih dari teman. Rasa dimana cinta mulai tumbuh dan sulit untuk mendalihinya.

Hasilnya? Dian tidak merasakan hal yang sama. Rasa yang ada di dalam hati Rama pun tidak bersambut. Meskipun keduanya saling menyayangi, tidak ada kemungkinan apapun dari benak Rama yang akan terjadi.

Waktu demi waktu, jarak mulai muncul di antara keduanya. Hingga suatu hari, mereka tidak saling mengucapkan sepatah kata. Semuanya berhenti begitu saja.

tumblr_ntc9q8opur1ub48m2o2_500

Kesepian, kehilangan, semua hal yang tidak pernah Rama bayangkan, kini dia rasakan. Tidak sedikit waktu dimana dia menyalahkan diri, dia juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Jika saja mengesampingkan rasa itu mudah, dia akan mengorbankannya. Jika saja, dia bisa kembali bersama Dian.

Hari demi hari, minggu demi minggu. Tidak ada malam dimana dia tidak memikirkan Dian. Dia hanya berharap, tidak hanya dia yang merasa seperti ini. Karena jika tidak, yang ada hanyalah dia akan semakin bersedih. Tidakkah itu sakit? Tidak bersama lagi dengan seseorang yang setiap harinya kita saling berbagi, saling berbicara, saling tertawa? Tidakkah hampa? Bisa melihatnya, mendengarnya, namun tidak bisa menyapanya? Rasa kehilangan itu tidak bisa teratasi tanpa melewati jangka waktu yang panjang.

Ketika Rama mulai menguatkan diri untuk tidak memikirkan Dian lagi, Dian justru mulai mencari perhatiannya. Rama merasa sulit untuk tidak menghiraukannya. Bagaimana bisa Rama mengalihkan pandangannya jika Dian terus berada di depannya, di sampingnya?

Rama tidak merasa senang. Dia sedih, lebih lagi dia merasa kesal. Apa alasan Dian melakukan semua itu? Rama sudah berusaha keras untuk menghindarinya, namun Dian terus datang dan datang. Walaupun sebenarnya Rama ingin kembali seperti dulu lagi, namun dia terlalu menyayangi perasaannya, hatinya. Karena bertepuk sebelah tangan dan berpura-pura itu terlalu menyulitkan. Menjauh dan diam itu hanyalah pilihan yang terbaik untuknya. Di suatu titik, kesabaran pun ada batasnya.

Rama memutuskan untuk membuka mulutnya dan bertanya. Untuk apa Dian bersikeras mengajaknya bicara, mendekatinya, padahal dia tahu itu mengganggu Rama? Dia sudah cukup menahan rasa kesal dan emosi. Hingga akhirnya Dian melontarkan kata-kata yang tidak pernah Rama duga.

“Aku ngeliat diri aku di dalam kamu. Kamu itu seseorang yang nggak bisa aku lihat di dalam diri orang lain. Aku nggak tahu apa kamu paham sama semua yang bakal aku omongin. Kamu itu orang yang selalu ngertiin aku. Disaat aku susah, kamu mau susah-susah sama aku, kamu terima-terima aja aku ajak makan yang murah, kamu mau aku ajak ke tempat yang biasa aja, yang bahkan belum tentu kamu suka. Kamu bisa aku ajak seneng-seneng, kamu yang ngajarin aku untuk nggak boros, kamu mau nemenin aku kemana pun. Kamu suka hal-hal yang aku suka. Kamu selalu bantuin aku ngehadepin masalahku, tugasku, ketakutanku. Kamu apa adanya di depanku, aku suka itu dari kamu, walaupun kamu nggak bisa lihat semua itu. Rama, aku mau terus bersahabat sama kamu. Keberadaan kamu penting di hari-hari aku.”

Semua kalimat itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Rama. Rama tidak menyadari, betapa penting peran yang selama ini dia jalani bersama Dian. Rama sadar, selama ini ruang dan waktu yang dia berikan untuk Dian, sebegitu pentingnya untuk Dian. Setiap momen yang mereka lewati, ternyata berpengaruh di diri Dian. Disitulah, Rama mengubah cara pandangnya.

Cinta mungkin hilang seiring waktu berjalan, namun rasa nyaman akan selalu ada. Tanpa mereka yang membuatmu nyaman, yang ada hanyalah hati yang hampa.

It only takes special people in our lives, to take such role to make us feel comfortable, safe, accepted and happy in every step of the way, even though we have to go through the bad parts.