Sandarku pada Hujan

Kala itu hujan datang, di kala pula aku menanti petang. Angin berhembus mengantar rintik-rintik, perlahan kencang membuat tubuhku bergidik.

Aku tak pernah begitu membenci hujan, kalian pun juga begitu bukan? Mungkin yang tak aku suka dari hujan adalah kawannya; petir. Ia selalu riuh, gaduh, yang dengan gemar dan santainya mengusik hati-hati yang berteduh.

tumblr_nmp00pclhu1s1dopxo1_r1_500

Hujan adalah salah satu tempat bersandarku. Yah, tak selamanya kita dapat bersandar pada manusia. Setidaknya itu menurutku.

Hujan mengamankanku dari malam-malam yang sunyi. Hujan paham akan ketakutanku pada sepi. Dengan adanya hujan, aku selalu terdorong untuk berlari. Hujan mengajarkanku, bahwa tak ada yang salah dengan berdiri sendiri.

God, Please Take Me Away

Purchase this image at http://www.stocksy.com/519199

Hari ini sama seperti hari-hari yang biasa, dan tulisan ini juga tak jauh dari tulisan-tulisan yang biasa.

Mengapa tulisan saya tak pernah jauh dari kesedihan dan rasa sepi? Entah.

Karena keadaan? Mungkin. Masalah hati? Tak salah.

Saya ingin menulis sedikit mengenai hal yang beberapa bulan ini pergi dan datang pada saya. Bukan mengenai cinta, mungkin lebih mengenai diri saya dan ujian yang sedang saya lewati.

Tulisan saya kali ini lebih mengenai keadaan batin yang sudah saya alami sejak bertahun-tahun lamanya. Hal ini terus terjadi, kadang bagai titik-titik hujan yang sendu, kadang juga bagai ombak keras yang menerjang saya hingga tenggelam.

Pria ini, figur yang luar biasa berkali-kalinya menancapkan tombak dan panah tajam yang panas dalam dada saya. Saya tidak dekat dengan pria ini, tapi segala rasa sakit yang saya rasakan dalam hidup ini sedikit banyaknya dikarenakan olehnya. Sudah seumur hidup ini saya mengenalnya, namun dia tak mengenal saya, sama sekali. Dia tak pernah sadar selama ini luka demi luka yang dia sebabkan dari waktu ke waktu sungguh membekas di hati saya. Dan yang namanya luka, apa yakin bisa dilupa?

Sosok pria yang egois, dingin, dan nyentrik. Yang bertahun-tahun tak menjalankan kewajibannya, selalu menuntut haknya, menolak adanya perbedaan, menjunjung tinggi harga dirinya, tak memiliki rasa kasihan, dan tak pernah mau mengerti. Bukankah seorang individu yang seperti ini hanya akan berakhir sendiri? Menurut saya setidaknya itu akhir yang paling pantas untuknya. Jahat? Saya akui. Namun saya sungguh heran betapa jahatnya pria ini. Betapa bisanya,dia berbuat jahat tanpa adanya rasa empati. Saya sadar, ternyata sabar menghadapi orang yang jahat itu tak selamanya membuat kita menjadi orang yang baik. Kita semua tahu, sabar ada batasnya. Terkadang menerima keadaan pun membuat kita muak bukan?

Saya selalu ingin uring-uringan, namun saya tahu posisi saya dalam situasi ini. Saya hanya ingin pergi, jauh dan tak pernah merasa harus kembali.

Beberapa waktu ini saya tak pernah berpikir untuk pulang. Saya menolak dan takut, lebih tepatnya. Konflik hidup yang fatal sedang menanti saya, dan saya sungguh tak memiliki keberanian untuk menghadapinya. Sebelum bulan Oktober ini berakhir, mau tidak mau, siap tidak siap, saya diharuskan pulang. Ingin saya menangis mencari pertolongan, namun saya terlalu lelah dan saya terlalu sadar bahwa tak ada siapapun yang bisa membantu saya kecuali diri saya sendiri dan Tuhan. Saya ingin meluapkan keluh kesah, namun tak semua orang dapat mendengar dan mengerti apa yang saya utarakan.

Satu hal yang tak henti-hentinya berputar di dalam pikiran saya, “Kenapa harus sekarang? Kenapa hal ini harus datang di tengah-tengah keadaan dimana saya yang seharusnya fokus untuk menyelesaikan studi? Kenapa hal ini merenggut segala motivasi yang ada di dalam diri saya? Kenapa saya harus kehilangan orang-orang yang berarti untuk saya? Kenapa Tuhan menguji saya sekarang? Kenapa saya harus hidup seperti ini?”. Kalimat-kalimat tanya kenapa itu selalu muncul tanpa ada habisnya.

Saya mungkin tidak bisa menjelaskan keadaan ini secara blak-blakan, karena hal ini cukup pribadi jika dicetuskan. Setidaknya dengan menulis ini saya bisa lebih melegakan diri, walau hanya setengah-setengah.

Saya rindu merasakan kebahagiaan. Saya tak tahu mengapa betapa kerasnya saya tertawa, betapa menyenangkannya orang-orang di sekitar saya, masih tak cukup untuk membuat saya bahagia? Apakah selama ini yang saya jalani hanyalah kepura-puraan? Sandiwara? Tidak sama sekali. Saya senang akan segala hal yang membuat saya tersenyum, namun tak pernah sekalipun terbersit dalam benak saya bahwa “aku bahagia”. Apa saya salah merasa seperti itu? Atau memang benar frasa “bahagia itu harus dicari dan bahagia tidak datang sendiri”? Saya tak tahu.

Inti dari semuanya adalah mungkin tahun 2016 yang sebentar lagi akan berakhir ini akan menjadi salah satu tahun terberat yang saya jalani. Padahal saya sungguh merasa optimis, positif mengenai tahun ini. Siapa yang mengira bahwa segala sesuatunya akan disedot habis dalam kurun waktu yang sama? Siapa yang mengira sad ending tak dapat bertubi-tubi datangnya?

The Gift of a Friend

Saya punya sedikit cerita, walaupun awalnya saya tidak ada niat untuk menulis apapun hari ini. Namun setelah apa yang baru saya saksikan dan saya alami, saya terinspirasi dan tidak bisa menahan untuk tidak membaginya.

Mari kita sebut saja namanya Rama. Dia salah satu teman saya sejak awal kuliah. Ini kisah tentang dia. Berbeda dengan teman-teman saya yang lain, dia cukup pemalu. Namun saya bisa menemukan kecocokan dengannya. Saya bisa berbagi segala macam cerita, dari hal sepele hingga masalah keluarga. Kebetulan, kami sama-sama memiliki teman dekat, dan kami sama-sama sedang mengalami suatu masalah. Namun kisah yang satu ini cukup mengenai Rama. Bukan saya.

Sudah sejak lama, Rama dekat dengan Dian (bukan nama asli tentunya). Saking dekatnya, orang-orang menganggap mereka seperti satu paket. Jarang sekali mereka tidak pergi bersama. Hingga suatu saat mereka menemukan sisi dimana mereka mengalami perbedaan. Kedekatan mereka menimbulkan rasa yang tidak pernah ada sebelumnya. Namun sayangnya, hal itu hanya dirasakan oleh Rama.

Awalnya Rama berpikir untuk menyimpannya saja. Namun apa daya jika lama-lama rasa itu susah sekali untuk ditahannya. Dia pikir mungkin sudah saatnya hal itu dia ungkapkan.

Pernahkah kalian merasa ingin mengungkapkan sesuatu yang ada di pikiran kalian, namun susah sekali untuk mengeluarkannya? Bahkan mengucapkan hal yang cukup sederhana saja tidaklah mudah. Itulah yang dirasakan oleh Rama.

Saat bertemu dengan Dian, Rama tidak bisa menghentikan kepanikan dan rasa ketidaktenangannya. Dia cukup mengungkapkan  beberapa kata namun tidak dikira hal itu akan sungguh menyiksanya. Setelah beberapa waktu akhirnya diucapkanlah, kalimat tabu yang seringnya dihindari oleh kebanyakan sahabat diluar sana. Rasa sayang yang lebih dari teman. Rasa dimana cinta mulai tumbuh dan sulit untuk mendalihinya.

Hasilnya? Dian tidak merasakan hal yang sama. Rasa yang ada di dalam hati Rama pun tidak bersambut. Meskipun keduanya saling menyayangi, tidak ada kemungkinan apapun dari benak Rama yang akan terjadi.

Waktu demi waktu, jarak mulai muncul di antara keduanya. Hingga suatu hari, mereka tidak saling mengucapkan sepatah kata. Semuanya berhenti begitu saja.

tumblr_ntc9q8opur1ub48m2o2_500

Kesepian, kehilangan, semua hal yang tidak pernah Rama bayangkan, kini dia rasakan. Tidak sedikit waktu dimana dia menyalahkan diri, dia juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Jika saja mengesampingkan rasa itu mudah, dia akan mengorbankannya. Jika saja, dia bisa kembali bersama Dian.

Hari demi hari, minggu demi minggu. Tidak ada malam dimana dia tidak memikirkan Dian. Dia hanya berharap, tidak hanya dia yang merasa seperti ini. Karena jika tidak, yang ada hanyalah dia akan semakin bersedih. Tidakkah itu sakit? Tidak bersama lagi dengan seseorang yang setiap harinya kita saling berbagi, saling berbicara, saling tertawa? Tidakkah hampa? Bisa melihatnya, mendengarnya, namun tidak bisa menyapanya? Rasa kehilangan itu tidak bisa teratasi tanpa melewati jangka waktu yang panjang.

Ketika Rama mulai menguatkan diri untuk tidak memikirkan Dian lagi, Dian justru mulai mencari perhatiannya. Rama merasa sulit untuk tidak menghiraukannya. Bagaimana bisa Rama mengalihkan pandangannya jika Dian terus berada di depannya, di sampingnya?

Rama tidak merasa senang. Dia sedih, lebih lagi dia merasa kesal. Apa alasan Dian melakukan semua itu? Rama sudah berusaha keras untuk menghindarinya, namun Dian terus datang dan datang. Walaupun sebenarnya Rama ingin kembali seperti dulu lagi, namun dia terlalu menyayangi perasaannya, hatinya. Karena bertepuk sebelah tangan dan berpura-pura itu terlalu menyulitkan. Menjauh dan diam itu hanyalah pilihan yang terbaik untuknya. Di suatu titik, kesabaran pun ada batasnya.

Rama memutuskan untuk membuka mulutnya dan bertanya. Untuk apa Dian bersikeras mengajaknya bicara, mendekatinya, padahal dia tahu itu mengganggu Rama? Dia sudah cukup menahan rasa kesal dan emosi. Hingga akhirnya Dian melontarkan kata-kata yang tidak pernah Rama duga.

“Aku ngeliat diri aku di dalam kamu. Kamu itu seseorang yang nggak bisa aku lihat di dalam diri orang lain. Aku nggak tahu apa kamu paham sama semua yang bakal aku omongin. Kamu itu orang yang selalu ngertiin aku. Disaat aku susah, kamu mau susah-susah sama aku, kamu terima-terima aja aku ajak makan yang murah, kamu mau aku ajak ke tempat yang biasa aja, yang bahkan belum tentu kamu suka. Kamu bisa aku ajak seneng-seneng, kamu yang ngajarin aku untuk nggak boros, kamu mau nemenin aku kemana pun. Kamu suka hal-hal yang aku suka. Kamu selalu bantuin aku ngehadepin masalahku, tugasku, ketakutanku. Kamu apa adanya di depanku, aku suka itu dari kamu, walaupun kamu nggak bisa lihat semua itu. Rama, aku mau terus bersahabat sama kamu. Keberadaan kamu penting di hari-hari aku.”

Semua kalimat itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Rama. Rama tidak menyadari, betapa penting peran yang selama ini dia jalani bersama Dian. Rama sadar, selama ini ruang dan waktu yang dia berikan untuk Dian, sebegitu pentingnya untuk Dian. Setiap momen yang mereka lewati, ternyata berpengaruh di diri Dian. Disitulah, Rama mengubah cara pandangnya.

Cinta mungkin hilang seiring waktu berjalan, namun rasa nyaman akan selalu ada. Tanpa mereka yang membuatmu nyaman, yang ada hanyalah hati yang hampa.

It only takes special people in our lives, to take such role to make us feel comfortable, safe, accepted and happy in every step of the way, even though we have to go through the bad parts.

 

A Little Bit of Heart, A Little Bit of Mind

Di malam yang dingin dan sunyi ini, aku berbaring kosong di atas tempat tidurku. Sudah lama rasanya sejak kita saling bicara. Aku berpikir keras mengapa kita saling beranjak dan berjalan pergi.

Lalu aku terhenti, “ini yang terbaik.” Batinku.

Kita berada dalam tempat yang buruk. Di suatu titik dimana yang ada hanyalah kita yang saling menyakiti satu sama lain. Mengapa begini? Apa inikah yang seharusnya kita jalani?

Bukankah kita saling menyayangi? Pertanyaan itu terus terngiang di dalam kepalaku. Semakin sering kudengar itu semakin aku menyalahkan diri. Berkali-kali aku menghadapi hal seperti ini, hingga pusing aku dibuatnya.

“Aku sudah gila.” Bisikku.

Ini rasa sepi dan kehilangan yang sangat dalam. Ternyata benar, aku sangat menyayanginya. Aku menyayanginya.

Aku menunggu air mata mengalir dari mataku, dan jatuh menetes dari kedua pipiku. Namun tak ada sedikitpun air mata keluar, dua bola mata ini bahkan tak berkaca-kaca dibalik sesak dan ricuhnya hati.

Orang-orang pikir mereka tahu. Mereka hanya mengolok-olok kesedihanku, dan tertawa lepas di atasnya. Yang mereka lihat jauh sekali dari kenyataannya, dari apa yang harus aku lalui. Mereka tak paham. Aku tak hanya kehilangan teman. Aku kehilangan rumahku, pundak hangat tempatku biasa bersandar, kawanku bicara tentang dunia yang kejam, sekaligus membahagiakan.

Bagi siapapun yang membaca ini, mungkin kalian akan berpikir “kau menyedihkan.” Aku tahu, tapi hal ini sudah lama sekali kusimpan, dan ini sudah semakin tak sehat buatku. Menuliskan perasaanku adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

Aku biasa melihatnya setiap hari, berbincang dengannya, menatap matanya. Sekarang pun aku tak bisa sedikitpun merasa nyaman berada di sekitarnya. Melihatnya itu menyesakkan, lebih lagi menahan untuk tak menyapa dan memalingkan muka. Konyol? Mungkin saja.

large

Dia meninggalkan banyak jejak dalam diriku, sedikit lebih banyak dari siapapun yang pernah menghabiskan banyak waktu bersamaku. Bodohnya, aku sudah tahu dari awal bagaimana akhir dari semua ini. Seiringnya waktu, semakin berat untuk ku melepasnya, namun siapa aku untuk menahannya. Biar waktu yang menyembuhkanku, dan berharap kami saling melupakan.

Penggemar Rahasia

Hari itu aku melihatnya. Dengan terburu-buru
mencari ruangan kelasnya.

Dia terlihat jauh lebih baik dari biasanya. Senyumnya lebih lebar dari biasanya. Tatapannya lebih dalam dari biasanya. Aku semakin tergila-gila dibuatnya.

Hari itu aku melihatnya. Duduk dengan manis bersama teman-temannya.

Dia terlihat lebih baik dari biasanya. Tawanya lebih keras dari biasanya. Bahagia terpancar jelas di wajahnya. Aku semakin terpana dibuatnya.

Hari itu dia melihatku. Berjalan menuju kantin dengan sahabatku.

Aku terlihat menyedihkan seperti biasanya. Bajuku kusut, aku tidak peduli dengan menyeterikanya. Rambutku berantakan, aku tidak peduli dengan menyisirnya.

Hari itu dia melihatku. Menguntitnya diam-diam di tengah malam.

Aku terlihat gila, tidak seperti biasanya. Tatapanku dalam, terlihat jelas betapa aku menginginkannya. Senyumku lebar, telah lama sejak aku menanti saat ini tiba.

Hari ini dia melihatku. Dia menyadari betapa aku tidak akan melepaskannya.

Aku terlihat lebih gila dari sebelumnya. Dengan lembut aku menyisir rambutnya. Dengan perlahan aku mengelus pipinya.

Akhirnya.

Akhirnya dia dapat kumiliki seutuhnya.

6475a4accf1cdb322189df11dd440255

A Spill about The Universe

tumblr_static_tumblr_static_b429orpgu7ksw8cs4sscsgc0k_640

“Kau tahu bagaimana caranya agar kita tahu bahwa semesta mendukung apa yang kita lakukan?” Tanyanya.

“Bagaimana?” Tanggapku.

“You just knew. Misalnya seperti ini. Kau sedang menumpahkan keluh kesahmu pada seseorang, lalu kau tiba-tiba mendengar lagu di radio yang sangat cocok dengan situasimu. Seperti langit yang mulai mendung namun kau memaksa tetap pergi ke puncak, dan ternyata disana sangat cerah. Seperti kau yang menepati janji untuk mengunjungiku walau awalnya kau tidak yakin keadaan akan memungkinkan. Semesta selalu mengambil andil dalam setiap hal yang kau lakukan.”

“Tapi… Bagaimana dengan cinta?”

“Bagaimana dengan hal itu?”

“Semesta begitu mendukungku dalam segala hal, tapi tidak dengan cinta.”

“Mengapa begitu?”

“Entah aku yang begitu egois, atau memang aku yang tidak mahir dalam masalah cinta. Namun kenyataan itulah yang membuatku berpikir bahwa semesta begitu tidak adil. Tapi aku akan begitu berdosa jika mengutuki semesta.”

“…..”

“Kini kau hanya diam.”

“Bukannya aku ingin menyinggung perasaanmu.”

“Mengapa?”

“Tidakkah kau melihat sekelilingmu?”

“Ada apa dengannya?”

“Kau dikelilingi oleh begitu banyak cinta. Cinta dari orang-orang di sekitarmu, keluargamu, kawan-kawanmu, aku? Kau sama sekali tidak merasakannya?”

“Aku…”

“Mungkin semesta sudah begitu mengambil andil dalam segalanya.”

“Maaf…”

“Bukan inikah yang kau harapkan?”

Aku kehabisan kata-kata.

“Jika semesta ini diibaratkan dengan buku, yang kau baca hanyalah halaman yang kosong. Tidak ada apapun yang bisa kau ambil, tidak ada apapun yang bisa kau pelajari. Buku itu seperti tak ada artinya. Tidakkah kau kasihan pada banyaknya halaman yang tak kau anggap adanya? Mereka yang membuahkan banyak ilmu, kini bagaikan ruang hampa karena dalihmu. Dan aku salah satunya.”

“Aku… Aku bisa mengisi halaman yang kosong itu dengan…”

“Imajinasi? Harapan? Tidakkah kau paham bahwa halaman yang kosong itu ada agar kau terus membaliknya, membaca apa yang ada?”

“…”

“Aku menyayangimu hingga sakit sekali rasanya. Tapi aku tidak menyalahkan semesta. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk bersabar. Bersabar untuk menunggu lembaran baru dalam buku kehidupanku.”

“Aku tahu. Aku tahu kasih sayangmu begitu dalam. Jangan bicara seperti itu.”

“Aku tahu aku bukan yang kau inginkan untuk mendampingimu. Tapi tak apa kah jika aku tetap disini? Setidaknya mengisi sedikit demi sedikit dari porsiku dalam hidupmu. Setidaknya selama semesta mengizinkan, dan aku tahu semesta tidak seegois itu.”

“Bantulah aku mengerti… Maafkan aku. Aku hanya secuil bagian dari semesta.”

Semesta.

Semesta itu ibarat buku. Kita hanyalah sebagian kecil darinya. Tapi tak ada salahnya bagi kita untuk melengkapinya. Walau hanya satu kalimat saja. Tak apa, selama kalimat itu terbaca dengan indah, dan bermakna. Meninggalkan suatu penafsiran yang suatu saat nanti jadi pegangan orang yang membacanya.

Mendung

image.jpeg

“Ah, awan gelap sudah mulai terlihat. Aku harus pulang sekarang.” Kataku.

Aku sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam menemani Joe menyelesaikan tugasnya. Tapi bukannya fokus pada laptopnya, matanya justru terus tertuju pada smartphonenya. Untuk apa lagi kalau bukan untuk terus mengabari pacarnya, Sasa.

“Yah, Le. Temani aku sampai semua tugas ini selesai. Aku pasti akan mengantarmu pulang kok.” Jawabnya.

Aku tak habis pikir dengannya. Tugas Applied Literary Criticism tidak sesulit itu untuk dikerjakan. Mungkin karena kenyataan itu Joe menganggap remeh dan terus memalingkan mata dan pikirannya pada Sasa.

“Aku bosan menemanimu, aku pikir kau mengajakku kesini karena kau ingin segera mengumpulkannya besok pagi. Kau tahu Bu Yeni tidak suka kalau mahasiswanya mengerjakan tugas dengan asal-asalan. Sebaiknya kau selesaikan saja tugasmu sendiri, aku bisa pulang naik taksi.” Tanggapku ketus.

“Ale… Aku yang akan mengantarmu pulang. Sebentar lagi, aku hampir menyelesaikannya. Kau tahu aku sudah lama tidak bertemu Sasa, dan dia sedang butuh perhatian lebih. Mengertilah. Kau kan sahabat terbaikku.”

Joe selalu tahu kalimat yang tepat untuk meluluhkanku, walaupun itu tidak menghilangkan kekesalanku. Aku hanya mengangguk dengan menghela nafas. Dalam batin aku bersumpah akan memukulnya jika nilainya berakhir buruk. Aku tidak mau waktu yang terbuang untuk menemani dan mengajari Joe berakhir sia-sia.

“30 menit. Itu waktu yang kau punya. Dan pastikan kau menyetaknya dengan rapi, dan tulis namamu di sebelah kanan atas, dan juga nomor indukmu. Kau sering lupa.” Lanjutku.

“Gila. Kau tahu kan kau yang paling mengerti aku? Aku tidak akan lupa kalau kau sudah mengingatkanku. Siapa yang bisa lupa kalau kau sudah memasang muka menyeramkanmu itu? Hahaha”

“Tidak lucu. Cepat selesaikan, kau membuang banyak waktu.”

“Le… Berhentilah bermuka masam, itu membuatmu jelek. Sini sini kau butuh pelukan?” Jawab Joe sambil merentangkan tangannya.

“Bodoh! Berhentilah bercanda, aku sedang serius!”

Si bodoh Joe terus merentangkan tangannya menungguku masuk dalam pelukannya. Dia selalu berperilaku bodoh, tapi itulah dia. Kekonyolannya mengikatku erat. Perlahan aku masuk dalam dekapannya.

“Sudah puas belum? Kau sangat membuatku kesal.”

“Belum. Kita akan terus seperti ini sampai kau berhenti kesal padaku.”

Aku terdiam. Dia selalu bisa membacaku. Dia tahu alasan sebenarnya mengapa aku begitu kesal.

“Maaf.” Kataku.

“Iya.”

Langit semakin gelap, titik-titik hujan mulai jatuh. Perlahan hatiku diselimuti kehangatan, walau angin yang dingin mulai berhembus.